Sebuah harapan yang senantiasa dijaga, tentu akan lahir dalam dimensi kita. Menghargai harapan adalah pekerjaan para orang yang optimis dengan adanya perubahan. Sempat terusik oleh ketakutan yang hinggap nan tenang di benak kami, maka langkah dari sebuah perjalanan besar sudah saatnya untuk dimulai.
Menepikan rasa pesimis menjadi satu langkah sederhana, sebelum kami menancapkan tiang-tiang perubahan. Di Indonesia, masyarakat seakan mentalnya terbangun menjadi mental pesimis. Dengan tayangan berbagai media yang kadang menyesatkan, sebagian besar berita dan kata demi kata yang muncul mengandung sisi negatif yang membangun mental ketakutan akan nasib bangsa. Dengan disuguhkan kenyataan pahit, gambaran Indonesia yang begitu hebat seakan tertutup awan hitam yang mencekam. Okelah, bangsa ini diguncang berbagai malapetaka, namun dibalik semua itu, akan ada hari dimana semua menjadi Indah.
Kami percaya!
Jika saja, mereka percaya dengan sebenarnya-benarnya keyakinan, tentu harapan untuk berubah jadi lebih baik akan timbul dengan sendirinya. Dan saat ini, bukan lagi masa untuk saling menyalahkan, bukan ajang protes kiri kanan. Sudah saatnya memulai langkah yang memberikan dampak positif.
Resiliensi menjadi salah satu faktor dalam menghapus ketakutan-ketakutan berlebih untuk Indonesia. Grotberg (1995: 10) menyatakan bahwa resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk menilai, mengatasi, dan meningkatkan diri ataupun mengubah dirinya dari keterpurukan atau kesengsaraan dalam hidup. Semoga kedepannya, kami mampu menumbuhkan dan menanamkan mental resiliensi, hingga akhirnya membawa Indonesia menjadi negara tangguh di mata dunia.
Resiliensi Indonesia
28 Januari 2012, dalam sebuah diskusi sederhana, kami berniat menciptakan perubahan yang bukan sekedar sebatas pemikiran. Selama ini kami telah nyaman dengan kondisi yang ada, kami sadar bahwa pemuda menjadi titik acuan guna melahirkan karya-karya yang mampu membangun citra positif bangsa ini. Bukan menjadi pemuda yang hanya bangga dengan ilmunya namun tidak ingin berbagi. Merasa punya segalanya, namun tidak melihat disekitarnya. Berperilaku hedonis dengan melupakan sebuah kewajiban, yakni aksi nyata.
Nama Resiliensi diputuskan menemani langkah kami, agar mampu mengingatkan kami bahwa Resiliensi itu ada. Selalu ada bagi orang-orang yang percaya akan harapan. Bangkit dari keterpurukan serasa sulit, sangat sulit, ditambah dengan situasi yang cenderung beriklim negatif maka tidak heran jika mental sebagian orang berwarna kelam. Sehingga tujuan utama berdirinya Resiliensi Indonesia adalah menanamkan, menciptakan, dan menguatkan mental Resiliensi Indonesia pada seluruh insan bangsa.
Dengan semangat beberapa pemuda, maka kami akan selalu optimis untuk membawa Resiliensi Indonesia menjadi sebuah langkah nyata menuju perubahan positif bangsa ini. Semoga, langkah demi langkah kami senantiasa memberi berkah. Meskipun tantangan akan hadir, dan saat itulah perjuangan siap untuk dimulai.
Bung Karno dengan tegasnya mengatakan:
“Beri aku seribu orang, dan dengan mereka aku akan menggerakkan Gunung Semeru. Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada Tanah Air, dan aku akan mengguncang dunia.”
Salam Resiliensi Indonesia!!!